era-kekuasaan-taliban-nasib-para-wanita-dalam-bahaya-besar

Era Kekuasaan Taliban, Nasib Para Wanita Dalam Bahaya Besar!

Era Kekuasaan Taliban, Nasib Para Wanita Dalam Bahaya Besar! – Bentuk keamanan dan pertahanan di bawah kekuasaan Taliban memang sangat berarti bagus untuk masa depan pemerintahan.

Terlebih mereka telah memiliki sejumlah organisasi yang secara daulat mampu meminimalisir terjadinya konfrontasi dan invasi dari pihak luar.

Akan tetapi hal tersebut malah berujung duka bagi kaum perempuan. Dimana hak – hak mereka semakin terancam dan berada dalam bahaya besar. Dan puncaknya terjadi pada bulan Agustus 2022.

Seperti yang diluruskan BBC, Senin (150822), Taliban sukses menjarah kekuasaan Afghanistan selama 1 tahun terakhir. Dalam rencana mereka, sejumlah perempuan nyaris tidak memiliki hak penting sebagaimana seharusnya yang dilakukan para gerakan feminisme oleh negara lain.

Hal tersebut berawal dari perpindahan kekuasaan Afghanistan ke Taliban sejak Agustus tahun lalu. Tercatat banyak kaum Hawa yang lebih mendekam di rumah masing – masing atas dasar ketakutan terhadap ancaman pemerintah.

Di sisi lain, BBC telah merangkum sejumlah kebebasan dan HAM perempuan Afghanistan yang direnggut secara paksa melalui perintah formal dan aturan lokal, di antaranya;
Menghapus Unjuk Rasa Kalangan Perempuan
Proses unjuk rasa dari para demonstran perempuan seakan – akan tidak menemukan titik terang. Dimana pada 5 September 2021, terjadi penumpukan massa di Ibukota Kabul untuk mengembalikan HAM perempuan. Namun nyatanya bala tentara Taliban menggertak massa dengan menyemburkan gas air mata.

Salah seorang demonstran Barakzai terpaksa harus berorasi lebih keras agar haknya tercapai dan kembali seperti dulu kala.

“Tak menunggu orang lain untuk bangkit, karena kami berhak untuk menuntut keadilan secara merata. Keputusan untuk ikut demo adalah hal terpenting bagi saya dan para wanita pada umumnya,” ucap Barakzai kepada BBC.

“Saat turun ke jalan, kami harus melawan ombak Taliban. Namun penyerangan mereka luput dari awak media. Dan saya berharap Afghanistan memiliki pemimpin yang tegas di masa depan,” tambahnya.

Pencabutan Tenaga Wanita Dalam Anggota Kabinet
Kejadian yang tak biasa pun terjadi selama masa jabatan Taliban. Diketahui bahwa awal September 2021, seluruh kabinet perempuan harus dihentikan secara paksa dan digantikan oleh kaum laki – laki. Terbaru, mereka baru saja mengasingkan 2 gubernur dan 4 menteri wanita.

Tak cukup sampai di situ saja, Kepala Komisi Budaya Taliban Ahmadullah Wasiq berwenang untuk menghentikan keterlibatan perempuan dalam kisruh politik dan ekonomi. Baginya, peran wanita tidak cukup layak bagi kamu wanita untuk berpartisipasi dalam dunia olahraga.

Ketika Taliban menguasai kriket profesional di Kabul, masa depan cabang olahraga tersebut bagi kaum perempuan menjadi ancaman besar.

“Islam tidak membenarkan wanita membuka aurat di muka umum. Saya rasa tindakan kami tidak perlu dipertanggungjawabkan lagi ke ranah yang lebih formal,” ucap Wasiq.

Tak Ada Celah Bagi Jurnalis Wanita
Tak sampai di situ saja, berbagai reporter hingga jurnalis wanita di Afghanistan harus mengundurkan diri dari jabatannya di berbagai kantor media seperti situs berita online, televisi, radio hingga koran.

Menurut keterangan koresponden TOLOnews ternama di Afghanistan Anisa Shaheed, pihaknya memilih untuk mengasingkan diri dari brutalnya kekuasaan Taliban.

Padahal sebelumnya, Ia sukses meraih penghargaan sebagai Jurnalis ternama tahun 2021. Tapi sayangnya hal tersebut tidak mampu menyelamatkan dirinya dari penistaan HAM perempuan di bawah kepemimpinan Taliban.

“Saya rasa pencapaian ini sia – sia saja. Tak banyak harapan saya terhadap keadilan di Afghanistan, kecuali bertemu dengan sanak keluarga dan kembali bekerja dengan nyaman,” ungkap Shaheed.

Wanita Tidak Diijinkan Keluar Rumah
Memasuki bulan Desember, organisasi Taliban melarang keras kaum wanita berkeliaran di luar rumah seorang diri. Akan tetapi mereka memberi ijin jika melakukan perjalanan jarak jauh bersama suami atau pendamping pria.

Hal tersebut telah diprakarsai oleh Kementerian Pencegahan Kejahatan dan Penyebaran Kebajikan. Yang dalam kajiannya para kaum Hawa yang akan melakukan perjalanan dengan jarah tempuh lebih dari 70 kilometer wajib bersama salah satu anggota keluarga pria atau laki – laki terdekat.

Selain itu mereka tidak diperkenankan untuk melintasi luar wilayah tanpa menggunakan penutup wajah atau cadar.

Seorang bidang di Kabul, Fatima sangat menyesalkan kondisi itu. Sebab mereka tidak pernah tahu yang terjadi pada masalah keluarga. Jika anak sakit dan harus segera mendapatkan perawatan, mana mungkin menunggu suami pulang kerja untuk memberikan yang terbaik.

Keterbatasan Kelas untuk Kalangan Mahasiswa Perempuan
Bulan Februari 2022, sejumlah universitas negeri hingga swasta beroperasi kembali. Akan tetapi kelas mereka harus dipisahkan antara mahasiswa laki – laki dan perempuan.

Terlebih mereka harus datang ke kampus tepat waktu berdasarkan jadwal dan pemetaan kelas yang ditentukan serta diwajibkan menggunakan hijab.

“Saya tidak terlalu senang adanya penjagaan Taliban di sekitar gedung. Tapi mereka tidak meresahkan kami,” ujar Rana kepada BBC.

Menutup Aurat Secara Penuh di Depan Umum
Sejak awal Mei hingga kini, pemerintah Taliban memberlakukan setiap wanita untuk menutup aurat secara penuh di depan muka umum. Mereka diwajibkan mengenakan cadar walau hanya pergi keluar rumah atau jarak tempuh dekat.

Organisasi tersebut memberikan toleransi terhadap kaum Hawa yang bepergian bersifat mendesak. Di sisi lain, pihak suami dan anggota pria terdekatnya akan dijatuhkan sanksi berat apabila mengabaikan perintah tersebut.

Salah seorang penjual baju, Soraya memberikan pernyataan terhadap BBC bahwa beberapa anggota Taliban harus terjun ke semua toko untuk memeriksa pakaian yang layak untuk para wanita.

“Saya tidak tahu bagaimana nasib para wanita ke depannya. Karena untuk saat ini, kami hanya bisa berpura – pura bahagia di atas kekuasaan Taliban,” ucap Soraya.